apakah ALLAH menginginkan saya sehat?
sejak dulu saya tidak suka dikasihani.
baik waktu masih kecil dan secara tidak sengaja jari saya nyungsep ke dalam pintu mobil sampai sobek dan terlihat seram karena menganga di jari tengah (walaupun saya menangis tapi itu lebih karena kaget dan seram, belum pernah liat luka sebesar itu) tapi ketika ditanya orang lain tentang bekas luka itu, saya akan menjawab dengan bangga "iya, jari saya kejepit" sambil tersenyum *BUKAN MERINGIS* sehingga tidak akan ada tatapan kasihan yang dilemparkan pada saya.
atau ketika masa SMP dulu satu jerawat saya di tengah2 alis yang pernah infeksi karena experimen memencet dengan tangan sendiri yang tidak terlalu bersih *kalo ga salah waktu itu sebelumnya sempet pakai satu minyak gosok yang lagi gencar2nya dipromosikan oleh Almarhum Ayah saya* sampai bengkak ke bawah mata *baca: dashyaaaat bener dah!* Ketika pun ditanya sama orang, kenapa saya sampai ditempeli perban begitu saya cuma menjawab dengan cengiran *tentunya* "iya nih, jerawatnya heboh"
sahabat saya, Cindy, pernah komentar dengan usil "soph, kenapa sih lo ga pernah sakit yg umum2 aja gitu, kaya flu kek, atau masuk angin kek??" pas saya terkena sakit herpes zoster yang menyerang syaraf tangan saya. Sepertinya komentar itu dilontarkan dengan penasaran karena temannya ini tidak pernah terlihat *atau terdengar, karena Cindy ini lebih menjadi teman jarak jauh sejak dia pindah SMU* kuatir dengan kesehatannya sendiri.
baru ketika saya bekerja, saya menyadari ada yang salah, bahwa sikap yang saya tampilkan ke luar ternyata adalah sikap yang saya JUGA rasakan di dalam hati, yaitu TIDAK PEDULI.
kenapa saya sadari hal ini ketika bekerja?
karena berulang-kali saya ditegur TUHAN lewat Partner yang TUHAN anugerahkan dalam DIA... gimana dengan pulang malam saya sendiri sedang menunjukkan sikap lebih mementingkan penilaian orang-orang kantor saya daripada kesehatan saya sendiri. Atau gimana dengan jatuh sakit, saya tidak sedang menjadi teladan bagi rekan-rekan kantor saya tentang bagaimana seorang Kristen harusnya juga menjaga kesehatannya.
Ampun...
Gimana kl Sophia pacaran ma Partner ketika masih kuliah yak? Sepertinya sering banget maksain untuk tidur malam demi menelepon pembicara, pemusik, MC dll...
Paling ketampol ketika check-up bulan Desember 2008 kemarin, gw dan dokter gw baru menemukan bahwa ada kebocoran pada ginjal gw... Padahal itu sudah tidak pernah lagi pulang terlalu malam *walaupun masih sering lewat dari Pk.5.00 sore*. Sejak itu Sophie ga mau lagi untuk pulang lebih dari batas waktu yang diwajibkan.
Kalaupun harus lewat, itu hanya karena pekerjaan hari itu masih belum selesai dan tidak bisa ditunda sampai besok.
Dan itu pun tidak mudah. Untuk seorang yang memiliki Sistemik Lupus Erithematosus seperti saya, itu tidak mudah. Karena itu berarti harus mengatur pekerjaan hari itu supaya tidak terlalu berlebihan dan tidak sampai menghambat jadwal pekerjaan secara keseluruhan... Sepertinya kadang kawan saya di legal dept mengeluhkan ini *biasanya kalau dia udah mulai merasa dikejar-kejar dateline* tapi melalui hal ini Sophie jadi ditegur untuk kembali datang pada Big BOSS tiap pagi dengan kesadaran bahwa tanpa tuntunan tangannya tidak mungkin saya dapat melewati satu hari itu. Bagaimana tetap bisa menjelaskan dengan sabar pada kawan kerja saya itu tanpa kekesalan, bahwa saya sudah berjuang mati-matian untuk memanfaatkan waktu dan mengatur pekerjaan saya dengan sebaik-baiknya. Atau kalau pun dia tidak mengerti, meminta agar Big BOSS sendiri yg lembutkan hatinya untuk mengerti pada waktunya nanti.
Bulan ini, ketika lupus saya mulai menyerang ginjal dan ada gejala kebocoran protein, saya agak merasa lelah dengan obat-obatan yang harus saya minum tiap sesudah makan... dengan berat badan yang naik cukup ekstrim dan pipi yang semakin *jadi sebelumnya kan juga udah, tapi jadi semakin* bulat... lelah dengan wujud baru dari lupus yang saya derita ini. Biasanya 'cuma' dalam wujud sakit kepala, nyeri-nyeri di persendian, mudah lelah, dan mudah pegal. Tapi sudah dengan upaya keras agar tidak pulang terlalu malam, tidak terlalu lelah, tidak terlalu tertekan pun sepertinya masih belum cukup.
Sempet merasa lelah sih... tapi "sayangnya", saya teringat satu buku terbitan RBC yang pernah saya baca, saya harusnya menyadari bahwa sakit saya ini pun bukan karena Big BOSS sedang membenci saya. Atau sedang menghukum saya. Tapi memang dalam kehendakNYA lah saya memiliki Sistemik Lupus, dan itu ternyata bisa DIA pakai untuk membuat saya semakin menyadari keMaha-HadiranNYA! Bahkan bisa dibilang, Sistemik Lupus menjadi salah satu titik yang berperan besar dalam pertobatan saya. Dengan cara yang unik Sophie ngalamin Roma8:28... segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan untuk saya dalam hal ini adalah Sistemik Lupus itu.
Jadi? Seharusnya saya tidak merasa lelah atas Sistemik Lupus ini ya? Biarin lah.. lagi butuh katarsis sedikit...
Kalau selama ini Big BOSS sudah pelihara saya, kenapa kasus sekarang di mana ginjal saya diserang harus jadi pengecualian ya?
Met belajar beriman!
Cheers!
GOD, i AM weak. Physically, mentally and spiritually. Therefore i am admitting that i am desperate for YOUR help. Thank You for this Systemic Lupus that you gave me, and thank You for each blessing that I receive in You. To know You better each day, and to learn to love You better each day. Thank You especially for grating me Laurenz, my partner who loves You more than himself *and even me!*, for teaching me so many things through him.
Please help me to be Your obedient servant... So that through me, people who didn't know You may see Your Character, Your will, and most importantly, Your LOVE for them.
I am merely a tool in Your hands, LORD. Amen.

0 comments:
Post a Comment